Sabtu, 16 Juni 2012

Penyakit Kurang Gizi


          Dalam suatu kelompok masyarakat tertentu penderita kurang gizi merupakan masalah yang amat pelik da tidak mudah penanganannya. Kekurangan gizi merupakan penyakit tidak menular yang terjadi pada sekelompok masyarakat disuatu tempat. Umumnya penyakit kekurangan gizi merupakan masalah kesehatan masyarakat yang menyangkut multidisiplin dan selalu harus kontrol terutama masyarakat yang tinggal di negara-negara baru berkembang. Selanjutnya karena menyangkut masyarakat banyak, kekurangan gizi yang terjadi pada sekelompok masyarakat tertentu menjadi masalah utama di dunia. Masalah penyebab kekurangan gizi (=malnutrisi) dalam kelompok masyarakat saat ini merupakan masalah kesehatan di seluruh dunia.
         Secara nyata malnutrisi di bidang kesehatan masyarakat merupakan penyakit gizi yang secara kontinu berpengaruh terhadap pertumbuhan. Berdasarkan penyelidikan dan pengalaman, ada dua hal penting yang berhubungan dengan malnutrisi dan hal yang perlu diperhatikan dalam usaha memperbaiki status gizi, yaitu:
1.           Faktor makanan saja
2.           Standar hidup secara nasional tinggi
         Kelompok masyarakat yang berpeluang terkena risiko menderita penyakit kurang gizi adalah:
1.           Kelompok masyarakat miskin
2.           Kelompok usia lanjut yang dirawat di RS
3.           Kelompok peminum alkohol dan ketergantungan obat
4.           Kelompok masyarakat yang tidak mempunyai tempat tinggal (fenomena modernisasi)
         Kejadian penyakit kurang gizi dan masalahnya meliputi :
1.           Masalah biologik dan sosial
2.           Masalah tingkat kekurangan gizi
3.           Masalah kelaparan
4.           Masalah lingkungan

A.          Masalah Biologik dan Sosial
         Penyebab mendasar dari masalah ini adalah ketidakcukupan pasokan zat gizi ke dalam sel. Meskipun banyak disebabkan oleh kekurangan zat gizi yang esensial, tetapi faktor penyebabnya sangat kompleks, yaitu faktor pribadi, sosial, budaya, psikologis, ekonomi, politik dan pendidikan. Masing-masing faktor relatif penting sebagai penyebab malnutrisi sesuai dengan keadaan waktu dan tempat yang diperoleh individu tersebut. Sebaliknya, bila pengaruh faktor-faktor ini hanya bersifat sementara, malnutrisi bersifat akut dan apabila tidak segera diperbaiki dengan cepat, kehidupannya tidak akan menjadi lebih panjang bahkan kehidupannya kan terancam. Demikian sebaliknya, sedangkan bila sifatnya tetap da tidak disembuhkan, malnutrisi menjadi kronis. Bila situasi ini berjalan dalam waktu yang lama dan berat, kan terjadi kematian.

B.          Masalah Kekurangan Gizi
         Keadaan penyakit kekurangan gizi terbagi menjadi dua kelas berikut :
1.           Penyakit kurang gizi primer
Contoh : pada kekurangan zat gizi esensial spesifik, seperti kekurangan vitamin C maka penderita mengalami gejala scurvy, beri-beri karena kekurangan B1.
2.           Penyakit kurang gizi sekunder
Contoh : penyakit yang disebabkan oleh adanya gangguan absorpsi zat gizi atau gangguan metabolisme zat gizi.

C.          Masalah Kelaparan
         Beberapa tempat dibelahan dunia terdapat perbedaan yang mencolok satu dengan yang lain sehingga menimbulkan kesengsaraan hidup dan orang terbuang karena malnutrisi. Jika kejadian pada manusia yang menderita meluas, hal itu kan melibatkann cara ukur. Ada beberapa pertanyaan yang timbul yang perlu diajukan untuk mengukur masalah, yaitu :
1.           Berapa jumblah yang menderita malnutrisi
2.           Dimana kejadiannya
3.           Penyebab malnutrisi
4.           Kemiskinan
5.           Kekuatan
6.           Populasi
7.           Politik

D.          Masalah Lingkungan
         Ekologi dalam bahasa Grek adalah oikos yang artinya adalah ‘rumah’. Banyak faktor kekuatan yang berasal dari rumah keluarga, dimana disini terjadi proses interaksi antara anggota keluarga. Dengan demikian, dalam suatu sistem biologik yang bersifat sangat komplek sehingga kemungkinan besar akan memproduksi penyakit. Hal-hal yang menyebabkan malnutrisi adalah banyak variasi, tingkat dan kombonasi. Keadaan ini seringkali merupakan komplikasi dari penyakit TBC, parasit usus, atau sepsis kulit. Pada kenyataanya, telah diketahui bahwa terdapat suatu sinergi antara malnutrisi dan infeksi. Umumnya kejadian serius pada penyakit malnutrisi terjadi karena masing-masing komponen bekerja bersama-sama dan tidak sendiri. Keadaan ini dapat digambarkan secara epidemologi sabagai variabel triad yang merupakan tiga faktor yang mempengaruhi kejadian penyakit malnutrisi: 1) host, 2) agent dan 3) Lingkungan.
1.           Agent: variabel agent sebagai penyebab malnutrisi adalah kurang makan.
2.           Host: termasuk dalam variabel ini adlah bayi, anak dan orang dewasa. Penyebabnya adalah penyakit, tingkat pertumbuhan yang tinggi, hamil, kerja berat, cacat lahir, lahir prematur, dan faktor pengaruh perorangan, seperti masalah emosional.

GAMBAR 1
Interaksi Tiga Variasi Epidemik yang Merupakan Tiga Faktor
Penyebab Terjadinya Malnutrisi (Traid)
Host

Disease

Agent                                      evironment

GAMBAR 2
Hierarki Derajat Penyebab Kejadian PEM, ( Waterlow, 1992)

Inequality
 
War
 
Drought
 
Derajat 1
 

Derajat 2

Neglet
 
Neglet
 
Infeksi
 
Kurang makan
 
Derajat 3


 

Derajat 5


 

Derajat 5

            Gejala malnutrisi :
1.           Protein kalori malnutrisi (Kwashiorkor dan marasmus)
2.           Anemia
3.           Hipovitaminosis A dan Xerophthalmaia dan
4.           Endemik Golter
         Masalah pertama terfokus pada prevalensi kemudian menilik pada penyakit kekurangan vitamin dan mineral.

KEP
Protein Calor Malnutrition (PCM) = protein Energi Malnutrition (PEM) = Energi Nutrient Malnutrition (ENM)
 
Ada beberapa istilah yang digunakan menurut penyebabnya. Istilah-istilah tersebut adalah



Kwashiorkor (Kekurangan Protein)
         Pola menyusu menyangkut budaya. Kwashiorkor adalah istilah pertama dari Afrika, artinya sindroma perkembangan anak di mana anak tersebut disapih tidak mendapatkan ASI sesudah datu tahun karena menanti kelahiran bayi berikutnya. Makanan penggantin ASI sebagian besar terdiri dari pati atau gula, tetapi kurang protein baik kualitas dan kuantitasnya.
Gejala kwashorkor
         Gejala umum kwashiorkor adalah sebagai berikut:
·             Pertumbuhan dan mental mundur, perkembangan mental apatis
·             Edama
·             Otot menyusut (kurus)
·             Depegmentasi rambut dan kulit
·             Karakteristik di kulit: timbul sisik, gejala kulit ini di sebut dengan flaky paint dermatosisi
·             Hipoalbuminemia, infiltrasi lemak dalam hati yang reversible
·             Atropi dari kelenjar Acini dari pankreas sehinggga peroduksi enzim untuk merangsang aktivitas enzim untuk mengeluarkan juice duodenum terhambat, diare
·             Anemia moderat (selalu bentuk normokhromik, tetapi sering kali bentuk makrosotik)
·             Masalah diare dan infeksi menjani komponen gejala klinis
·             Menderita kekurangan vitamin A, dihasilkan karena ketidak cukupan sintesis plasma protein pengikat retinol sehingga sering kali timbul gejala kebutuhan yang tetap/permanen.
Metabolisme Abnormal
         Perubahan metabolisme karena kekurangan protein adalah kekurangan pengaruh cairan dan elektrolit, protein, lemak, vitamin dan mineral.
Cairan dan Elektrolit
         Karakteristik kwashiorkor adalah gangguan spesifik terhadap metabolisme cairan dan elektrolit. Total cairan tubuh meningkat, di tandai dengan reduksi total kalium tubuh dan retensi natrium. Gangguan cairan dan elektrolit ini di tandai dengan terjadinya hipoalbuminemia, gangguan fungsi hormon, depresi fungsi sel enzim dan sirkulasi gagal.
Metabilisme protein, lemak, vitamin dan mineral
         Tingkat pengosongan protein dari ekstremitas mempunyai tingkat tingkat yang berbeda antara organ dan jaringan. Umumnya pengambilan protein jaringan seperti mukosa dan sekresi kelenjar sistem gastrointestinal banyak dipengaruhi. Gangguan fungsi metabolik yang terkonsentrasi pada protein seperti enzim dan plasma drah, juga terjadi penurunan asam amino bebas dari ekstremitas.
         Fungsi abnormal pada trasport lipid darah dari kontribusi ekstremitas rendah vitamin A, terutami vitamin larut lemak. Perubahan juga terhadi pada katabolisme lemak dan sintesis lemak serta kekurangan lemak esensial. Konsentrasi vitamin A darah rendah. Kebutuhan vitamin dan mineral untuk metabolisme juga menurun. Keadaan yang sering terjadi adalah kasus kekurangan besi dan cuprum.
Etiologi
         Indikasi yang jelas pada kwashiorkor yaitu kekurangan protein (protein malnutrisi), baik kualitas atau kuantitas protein ataupun kedua-duanya yang dibutuhkan untuk pertumbuhan, perbaikan sel yang rusak, tetapin umumnya cukup kebutuhan kilokalori. Kilokalori dipenuhi oleh pati foodstuffs (lihat gambar 2. Multi-etiologi).
         Penderita protein malnutrisi biasanya terjadi pada :
1.           Anak lepas susu (disapih) umur 1-4 tahun.
2.           Tempat di daerah tropikal, subtropikal di mana ekonomi, sosial, budaya merupakan kombinasi faktor ini yang kerap menimbulkan protein malnutrisi pada anak-anak.
3.           Anak-anak yang sedang dirawat inap karena pembedahan atau hipermetabolik.

Marasmus
         Marasmus adalah suatu keadaan kekurangan protein dan kilokalori yang kronis. Karakteristik dari marasmus adalah berat badan sangat rendah.
Gejala Marasmus
         Gejala umum marasmus adalah:
·             Kurus kering
·             Tampak hanya tulang dan kulit
·             Otot dan lemak bawah kulit atropi (mengecil)
·             Wajah seperti orang tua
·             Berkerut/keriput
·             Layu dan kering
·             Diare umum terjadi
Masalah Penyebab Marasmus
         Marasmus terjadi karena adanya faktor-faktor sebagai berikut:
·             Masalah sosial yang kurang menguntungkan
·             Kemiskinan
·             Infeksi
·             Mikroorganisme pathogen penyebab diare
·             Kecepatan pertumbuhan melambat
·             Tidak ada dermatitis atau depigmentasi
·             Tidak ada edema
·             Tumbuh kerdil, mental, dan emosi terganggu
·             Menarik diri dari lingkungannya
·             Suhu tubuh subnormal karena tak mempunyai lemak subkutan yang menjaga tetap hangat
·             Aktivitas metabolisme minimal
·             Jantung melemah
Metabolisme Abnormal
         Metabolisme dalam stadium terhambat, terjadi perubahan metabolisme cairan, elektrolit, protein, lemak, vitamin, dan mineral.
Cairan Tubuh dan Elektrolit
         Serupa pada kwarshiorkor, terjadi pengosongan natrium, terutama bila terjadi diare persisten, tidak tardapat penahanan air sehingga keadaan ini sangat kontras dengan keadaan kwarshiorkor.
Protein, Lemak, Vitamin, dan Mineral Metabolisme
         Meskipun kadar protein serum terganggu, tetapi kejadiannya lebih tinggi daripada kwarshiorkor. Umumnya kekurusan terjadi kerana tidak ada otot dan asam amino eksogenous (dari diet) dan endogenous (otot) yang digunakan sebagai sumber protein dengan penderitaan tingkat akurat.
            Metabolisme lemak pada marasmus, absorpsi lemak diperlihatkan dengan absorpsi vitamin A dan umumnya tidak sejalan sebagaimana terjadi pada kwarshiorkor. Sistem enzim khusus untuk pencernaan, mekanisme untuk transport lemak yang melalui dinding usus dan protein pengangkut lemak kemungkinan sepanjang ini masih terpelihara.
            Simpanan vitamin dan mineral dalam tubuh menurun perlahan-lahan. Meskipun demikian, absorpsi vitamin A yang tersisa kadang-kadang berjalan normal, kontras dengan keadaan kwarshiorkor yang justru malah terjadi depresi.
Etiologi
         Penyebab marasmus adalah diet yang kurang kilokalori dan protein dalam jangka waktu lama (kronis). Deteriosasi fungsi tubuh terjadi perlahan dan menghasilkan penyusutan otot. Penghambatan menjadi lebih sempurna, semua makanan dan fisik serta emosional mengalami mundur pada orang lansia yang miskin karena sering kali tidak ada makanan yang bermutu atau mempunyai masalah emosional dan mental. Penyakit lain yaitu TBC, gastroenteritis, disentri, diare infeksiosa, atau terjangkit parasit, bersamaan dengan tidak ada pemeliharaan kesehatan.
Kejadian Marasmus
         Marasmus biasanya terjadi pada bayi umur 6-18 bulan. Kejadiannya di daerah slum dengan masalah sosioekonomi, daerah tropik, dan subtropik dengan pola negara baru berkembang seperti pada kwarshiorkor. Selain itu, marasmus juga terjadi pada kelompok usila yang dirawat di Rsyang terpisah.
Perlakuan dan Kontrol
            Pencegahan tergantung pada pemberantasan penyebab sakit, pencarian jalan keluar terhadap masalah sosial ekonomi, koreksi keseimbangan elektrolit, program pemberian makanan dan pengasuhan yang penuh kasih.
Assesment
         Ada hal-hal tambahan spesifik karena gangguan kekurangan zat gizi yang melibatkan banyak faktor. Faktor-faktor yang ikut (berkompetensi) berperan terhadap terjadinya kurangnya gizi, yaitu :
1.           Faktor kekebalan/ketahanan tubuh (immun)
2.           Faktor reproduksi
3.           Keluaran hasil kerja
4.           Mental
5.           Perlakuan sosial dan perilaku.
         Kecukupan gizi berbanding linier dengan “intake” dan kesehatan. Pengukuran antropometri terutama tentang kecukupan pertumbuhan pada anak sangat baik karena dapat memprediksi keadaan statusn gizi anak sdecara individu atau dalam populasi. Pengukuran antropometri dalam rasio: Weight for age (berat per umur) atau Height/age (tinggi per umur), hasilnya dapat sebagai ukuran seperti pada tebel 1 berikurut.

TABEL 1
Derajat Malnutrisi Menurut Berat dan Umur
Tingkat malnutisi
Berat for age (w/age)
Tingkat I   : ringan (mild)
Tingkat II  : moderate
Tingkat III : berat
75-90 persen dari standar
60-75 persen dari standar
Kurang dari 60 persen dari tolal standar

Treshold of Tolerance
         Treshold of tolerance adalah batas adaptasi keberhasilan seseorang pada tingkat rendah “intake” kalori pada batas tersebut berda dibawah treshold dan bersifat kronis, orang tersebut dapat mengalami gangguan fungsi tubuh. Sementara itu, apabila “intake” kalori yang dikonsumsi pada batas kebutuhan yang direkomendasikan (AKG) dengan batas “treshold point,” maka kehidupan orang tersebut terletak pada batas marginal.

Klasifikasi Berdasarkan Kesehatan masyarakat dan Klinis
            PEM dengan tingkat kwashiorkor dan marasmus secara kualitatif dapat dibedakan yaitu gejala subklinik PEM pada komunitas masyarakat (kesehatan masyarakat) dan juga berdasarkan berat serta tinggi badan. Sedangkan perbedaan secara klinis berdasarkan gejala awal dapat diperhatikan seperti pada Tabel 2:

TABEL 2
Klasifikasi Sistematis Perbedaan Kwashiorkor dan Marasmus

Hati berlemak
Gizi kurang tanpa kerusakan hati
Jumlah anak
15
21
Jumlah dengan Bromsulphthalein retention
14
0
Jumlah anak dengan:


Hati teraba
14
5
Udema
11
1
Glositis
11
5
Angular stomatis
7
1
Cheilosis
8
2
Mosaic skin
6
3
Raised serum bilirubin
8
1
Rata-rata berat badan, persen standar
68
50
Rata-rata Hb, persen hal dan standar
56
60
Rata-rata serum total protein,g/dl
4.5
5.7
Rata-rata serum alkalin fostatase, KA unit
19.7
19.4
Liver fat, persen berat basah
40.2
4.6

( 4 kasus)
(6 kasus)

TABEL 3
Klasifikasi Berat Badan Berdasarkan Umur pada Penderita PEM
Berat/umur (% expected)
(Havard standard)
Udem
Ada
Tidak ada
80-60
Kwarshiorkor
Kurang gizi
< 60
Marasmik-kwarshiorkor
Marasmus

TABEL 4
Prevalensi (%) Marasmus, Marasmik-Kwarshiorkor dan Kwarshiorkor
pada Beberapa Rumah sakit
Negara
Marasmus
Marasmik-kwarshiorkor
Kwarshiorkor
Referensi
India
35
21
43
Chaundhuri dkk. (1961)
India
18
31
51
Bhttachariyya (1986)
Jamaica
40
24
35
Garrow (1966)
Uganda
12
16
72
Wharton (1973)
Turki
84
11
5
Gurson dkk. (1975)
Lesotho
37
14
49
Tolboom dkk. (1986)
Sudan
38
27
35
Coulter dkk. (1988)

Tabel 5
Umur  Anak Penderita PEM di RS
Negara/Reference
Umur rata (bulan)
Marasmus
Marasmik-kwarshiorkor
Kwarshiorkor
Jamaica (Garrow, 1986)
11.7
-
12.5
Jamaica (Waterlow & Rutishauser, 1974)
11.4
12.8
12.7
Jordan (McLaren, 1966)
7.7
20.7
rare
Bagdad (Shakir dkk, 1972)
16.9
21.8
21.0
India (Chaudhuri dkk, 1961)
25.5
22.0
21.6
Lesotho (Toolboom dkk, 1986)
12.3
17.5
20.2

Tabel 6
Panjang Badan Anak Penderita PEM di Jamaika dan Baghdad
Penyakit
Panjang menurut umur (persen standar)
Jamaica
Baghdad
Marasmus
86
83.5
Maramik-kwarshiorkor
84.5
79.5
Kwarshiorkor
92
87

Pengukuran antropometri yang digunakan menurut WHO-NCHS
Istilah Status Gizi
1)          BB/U
o      Gizi Lebih            > 2.0 SD baku WHO-NCHS
o      Gizi baik  - 2.0 SD s.d. + 2.0 SD
o      Gizi kurang          < - 2.0 SD
o      Gizi buruk            < - 3.0 SD
2)          TB/U:
o      Normal     > = - 2.0 SD baku WHO-NCHS
o      Pendek (Stunded)            < - 2.0 SD
3)          BB/TB:
o   Gemuk   > 2.0 SD baku WHO-NCHS
o   Normal  - 2.0 SD s.d. + 2 SD
o   Kurus/wasted    < - 2.0 SD
o   Sangat Kurus     < 3.0 SD
         Pengelompokan gizi kurang menurut Z-skore dalam tiga kategori:
1.           Gizi kurang tingkat ringan (nilai Z_BBU ≥ - 2.5 SD dan < - 2.0 SD)
2.           Gizi kurang tingkat sedang ( nilai Z_BBU ≥ 3.0 SD dan < 2.5 SD)
3.           Gizi kurang tingkat buruk (nilai Z_BBU , - 3.0 SD)
Keadaa Status Gizi Balita di Indonesia 1995-1998
1.           Prevalensi gizi kurang pada anak usia 0-59 bulan
Dari pemantauan konsumsi gizi (PKG) tahun 1995-1998 yang dilakukan oleh kelompok Gizi Kesehatan Masyarakat Departemen Kesehatan RI, mulai dan krisis meneter hingga 1998 (4 tahun) pada 12 dari 26 provinsi yang mempunyai data lengkap tidak menunjukkan perubahan ketahanan pangan di tingkat rumah tangga dengan  nilai rata-rata intake energi sebesar 2.150 kkal dan 46.2 gram protein yang mendekati nilai AKG. Namun demikian, terdapat 43-50% rumah tangga masih mengonsumsi energi kurang dari 1.500 kkal dan antara 23-35 % masih mengonsumsi kurang dari 32 gram protein per kapita per hari semenjak tahun 1995. Dari hasil pemantauan konsumsi gizi dalam kurun waktu 1995-1998 terlihat ada penurunan prevalensi gizi kurang, yaitu dari 28.3% menjadi 25.4% dengan kecepatan penurunan 2.9% per tahun dan penurunan ini meliputi tingkat desa dan kota. Harapan penurunan prevalensi gizi buruk di Indonesia dipertahankan hingga 1 persen per tahun, tatapi penurunan prevalensi gizi kurang dari 28.3% menjadi 25.4% tersebut masih tergolong tinggi dibanding dengan negara-negara tetangga (Malaysia, Filipina, Thailand) yang besarnya 20% pada tahun yang sama. Oleh karena itu, indikasi ini menunjukkan bahwa gizi kurang di Indonesia masih merupakan masalah. Tahun1999 pada akhir PELITA IV, prevalensi gizi kurang menunjukkan penurunan menjadi 16 persen, tetapi penurunan ini masih lebih tinggi dari target.
2.           Prevalensi gizi kurang pada anak usia 6-17 bulan dan 6-23 bulan. Kelompok umur 6-17 bulan dan 6-23 bulan adalah kelompok umur yang merupakan saat periode pertumbuhan kritis di mana pertumbuhan dapat mengalami kegagalan tumbuh (growth failure). Kelompok ini yang sering tertimpa kurang gizi akibat suatu bencana di negara sedang berkembang.

TABEL 7
Prevalensi Gizi Buruk menurut Usia dan tingkat Daerah
Daerah
Usia anak 6-17 bulan Prevalensi
Usia 6-23 bulan % penurunan
Prevalensi
Gizi kurang
Kota
25.8% (1989) - 21.0 (1995)
22.7% (1998)- 17.5% (1999)
1989-1995
1995-1998
1999
7.9
0.5
3.8
Desa
35.3% (1989) – 26.9% (1995)
28.6% (1998) – 24.6% (1999)
Prevalensi gizi kurang secara umum penurunannya sedikit lebih tinggi daripada di kota
Kota+Desa
33.0% (1989) – 25.4% (1995)
26.3 (1998) – 22.5% (1999)


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar